RSS

Sepenggal Cerpen


Pesan Terakhir Untuknya

“Ayah, Ibu… !!! teriak Mia di sudut pintu depan rumah.
Saat itu memang hari dimana sekolah mia mengadakan pembagian raport hasil belajarnya selama satu semester. Mia pun segera memasuki ruang tamu dimana ayah dan ibunya sedang harap-harap cemas menunggu hasil belajar anaknya itu.
”Ayah, ibu, Mia berhasil juara di kelas” sahut mia antusias

Siswi kelas 2 SMA ini memang begitu antusias dalam belajar , itu dilakukannya demi hadiah liburan yang dipintanya. Liburan selama dua minggu yang dipinta mia memang sengaja diajukannya karena ia merasa kurang perhatian dari orang tuanya, dalam beberapa bulan ini ayah dan ibunya memang sibuk dengan bisnis mereka masing-masing dan itu membuat prestasinya di sekolah menurun hingga akhirnya Mia membuat sebuah perjanjian dengan kedua orang tuanya.
Tibalah saatnya liburan yang ditunggu-tunggu Mia selama satu semester. Puncak memang sengaja dipilihnya sebagai tempat liburannya karena Mia sangat suka dengan suasana puncak yang menyejukan. Salah satu villa pun dipilih keluarga kecil itu. suasana villa yang begitu sejuk, membuat keharmonisan keluarga kecil Mia menjadi lebih meningkat.

Di hari pertama Mia dan keluarganya jalan-jalan mengelilingi puncak dengan bahagianya. Mia merupakan anak pertama dan anak satu-satunya di keluarga itu, dan itu sedikit membuatnya merasa kesepian apalagi jika orang tuanya sibuk dengan bisnis mereka masing-masing.

Di suatu sore Mia keluar villa yang ditinggalinya selama dua minggu itu. di halaman villa itu memang tersedia ayunan, tempat duduk, serta pohon besar yang membuat halaman itu begitu sejuk dan membuat orang yang berada di halaman tersebut merasa nyaman. Ketika ia melihat ayunan itu dari kejauhan tiba-tiba ayunan tersebut bergerak, mungkin itu hanya angin pikir Mia dalam hati. Kemudian didekatinya ayunan itu lalu tiba-tiba Mia merasa ada yang melewatinya dengan lembut dibelakang rambutnya menyapanya dengan ramah. Mia merasa sesuatu hal aneh sedang terjadi pada sore itu, namun ia tak mau berpikir yang aneh-aneh dan ia pun kembali masuk villa dan beristirahat.

Paginya, angin berhembus cukup besar. Dinginnya puncak membuat suasana pagi itu cukup membuat mia malas untuk pergi keluar villa. Disaat orang tua Mia pergi entah kemana ia pun tak tahu, ia segera bergegas keluar villa mencari-cari kedua orang tuanya. Disudut kiri, kanan, kedua orang tuanya tak ada, pikirannya kalang kabut benar-benar campur aduk. Mia pun menangis tepat di dekat ayunan halaman villa itu.
Entah mengapa ketika Mia mengangkat kepalanya yang semula menunduk, terlihat seorang gadis periang seumuran mia yang manis dan cantik. Ia bermain ayunan dan terlihat senang sekali tertawa cekikikan seakan-akan tak ada beban yang menyelimutinya. Mia pun tertarik mendekati gadis itu. Dan keluarlah perkataan dari mulutnya.
“kau siapa?” Tanya Mia
“ hehehe….” jawab gadis itu tertawa riang.
Angin pun berhembus dengan halus melintas diantara rambutnya yang tergurai indah. Mia pun semakin penasaran siapa gadis yang sedang bermain ayunan di villa tempat ia berlibur itu.
“kenapa ketawa? apa kau lihat ayah ibuku yang keluar dari villa ini? Aku mencari-carinya tapi mereka tidak ada. Apa mereka meninggalkanku? Kau dari mana? Kenapa kau ada disini?” sederet pertanyaan pun keluar dari mulutnya.
“aku tidak tahu, aku tinggal disekitar sini. Kau baru ya disini aku baru melihatmu?”
“iya aku hanya liburan disini dan itu hanya dua minggu. Kau asli orang sini ya?”
“hehehe… tidak aku hanya mampir nanti juga kembali lagi kerumahku”
“memangnya rumahmu dimana? Kamu bilang tadi tinggal disini!”
“hehehe… aku pergi dulu ya orang tua mu sudah datang!!!”
Mia melihat kearah pintu masuk villa dan ternyata benar sebuah mobil melaju dan berhenti di depan villa itu. Mia pun segera menghampiri kedua orang tuanya.
“ ayah dan ibu dari mana saja aku tadi kalang kabut mencari kalian” Tanya mia memelas.
“maaf sayang ibu dan ayah tadi mencari supermarket, ternyata jauh sekali tempatnya. Kamu sudah mandi?”
“sudah bu, oh iya aku punya….”
Ucapan Mia pun terhenti ketika melihat ayunan dihalaman villanya kosong tak ada seorang pun yang berada disana. Ia pun jadi urung menceritakan sosok teman barunya yang ia temui tadi.

Keesokan harinya, Mia merasa seolah-olah ada yang menarik dirinya ke depan halaman villa. Ayunan itu, ia lihat ayunan itu mengayun dengan lembut seperti ada yang duduk memainkan ayunan tersebut. Tapi tak ada seorang sosok pun yang terlihat disana.

Satu minggu beralu, tanpa ada masalah sedikitpun mia dan keluarganya benar-benar menghabiskan masa liburannya dengan sangat bahagia.
“sekarang tinggal satu minggu lagi waktu yang tersisa” ucap Mia sambil melingkari kalender yang sengaja ia persiapkan agar ia tidak lupa dengan jatah liburannya yang hanya dua minggu.
“pokoknya waktu yang tinggal seminggu ini harus aku manfaatkan!” ucap Mia dengan penuh ketegasan.

***
“hai cantik…”
Mia merasakan seperti ada yang memanggilnya siang itu. Suara yang tak asing lagi baginya.
“kau sombong sekarang tak mau menjawab teguranku” suara itu terdengar lagi di kuping Mia. Mia semakin bingung siapa sebenarnya yang mengeluarkan suara itu. Hembusan angin pun terasa sangat aneh, terasa lembut menyapa Mia. Tanpa sadar Mia pun berdiri dari tempat ia duduk, berjalan perlahan seakan-akan ada yang menarik dia keluar. Keluar, keluar, dan semakin keluar. Tibalah Mia di depan sebuah rumah kecil yang sederhana. Mia pun tersadar, terlihat sesosok laki-laki tampan keluar dari balik pintu di rumah sederhana itu. Siswi kelas 2 SMA  pun sontak kaget, ketika itu Mia tersadar ternyata ia sudah berada di tempat yang tidak sama sekali ia ketahui. Ia merasa berada di dalam mimpi, namun itu sama sekali bukan mimpi melainkan kenyataan misterius yang benar-benar membuat Mia tak tahu harus berbuat apa-apa.
“kamu siapa” satu pertanyaan keluar dari mulut laki-laki yang sama sekali belum ia dikenal.
“a…aku…” tanpa lama-lama Mia berlari dengan sekencang-kencangnya meninggalkan laki-laki itu.
Namun ketika ia sedang berlari ia mendengar suara yang tak asing lagi ditelinganya, suara yang sama yang ia dengar ketika di villanya beberapa hari yang lalu.
“kau mau kemana???” suara itu pun mengeluarkan pertanyaan untuknya.
“siapa kau?” Satu pertanyaan pun keluar dari mulut manisnya.
Mia memutarkan badannya sambil mencari dimanakah suara itu berasal. Tiba-tiba ketika terus berputar, terlihatlah satu sosok gadis dan gadis itu serasa tak asing bagi Mia, ia merasa pernah bertemu dengan gadis itu. Gadis itu mebelakangi Mia. Mia pun mendekati gadis itu,  dan sedikit demi sedikit gadis itu pun membalikan badannya ke arahnya. Dan ternyata gadis itu adalah gadis yang pernah ditemui Mia beberapa hari yang lalu tepat di ayunan yang berada di villanya itu.
“kau masih ingat dengan ku?” Tanya gadis itu.
“kau…. Kau yang beberapa hari lalu bermain ayunan di villaku kan?”jawab Mia.
“he, ya”.
“mengapa kau ada disini? apa yang kau kau lakukan disini? apa… apa kau yang membawaku kesini?” Tanya Mia.
Gadis itu hanya tersenyum, Dan membuat Mia pun semakin bingung. Mia pun kembali bertanya
“kau ini siapa sebenarnya? Aku tak mengerti dengan semua ini?”
“kau lihat laki-laki tadi, dia itu kakakku!” jawab gadis itu.
“maksudmu laki-laki yang keluar dari rumah itu dan membuatku takut?”
“kau tak perlu takut, dia itu kakakku. Kakak yang begitu sayang kepadaku. Ia Tak pernah sedikitpun mengeluh di depanku!”.
“aku tidak mengerti, mengapa kau membawaku kesini”.
“aku ini sebenarnya… tapi kau tak akan takut kepadaku kan?”.
“maksudmu? Mengapa aku harus takut?”.
“aku ini adik laki-laki yang kau lihat tadi. Seorang adik yang meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa. Dan aku ingin kau membantuku!”.
“membantumu? Apa itu? Dan mengapa kau meninggalkan kakakmu, bukankah kau bilang dia sangat baik terhadapmu?”.
“takdir yang membawaku”.
“maksudmu? Aku semakin tidak mengerti apa yang kau katakan”
“aku ini adalah arwah, arwah yang ingin sekali melihat kakaknya bahagia. Aku ingin dia menemukan kebahagian yang belum pernah aku berikan untuknya. Dan kau adalah orang yang bisa memberikan kebahagiaan itu untuknya”.
“jadi kau ini hantu?”
“kau tak usah takut, aku hanya ingin meminta bantuanmu saja”
“aku? Mengapa aku?”
“kau adalah temanku bukan? Kau ingat apa yang kau katakan ketika aku berkunjung ke villamu? Waktuku tak banyak, aku hanya ingin kau membantuku untuk membahagiakan kakakku. Hanya itu saja, aku harus pergi kakakku datang!”.
“tunggu!”.
Mia benar-benar merasa berada didalam khayalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki mendekat kepadanya.
“kau tak apa-apa?” Tanya laki-laki itu
Mia hanya terdiam, dan berusaha menganggap apa yang ia alami ini hanyalah mimpi dan ia merasa harus bangun, bangun dari mimpi yang membiangungkannya itu.
“hey.. kau tak apa-apa?” Tanya laki-laki itu sekali lagi.
“ya, aku taka pa-apa” akhirnya terucaplah sebuah kalimat dari bibir Mia.
“syukurlah, aku takut kau kenapa-napa. Apa aku yang membuatmu takut?”
“ti…tidak, kau tak menakutkanku. Hanya saja…..”. jawab Mia gemetar
“hanya saja apa?”
“tidak, kau mempunyai seorang adik?”
“bagaimana kau tahu? Ya memang benar aku mempunyai seorang adik, tapi dia telah lama meninggal. Umurnya beda satu tahun denganku. Oh, mengapa kau bertanya seperti itu?” Tanya laki-laki itu.
“tadi aku bertemu dengan adikmu, dia bilang…….” Jawab Mia gugup.
“kau bertemu dengan adikku? Memangnya kau kenal dengan adikku? Lagipula dia sudah lama meninggal. Kau jangan bercanda ini tidak lucu!”
“aku tidak bercanda, tadi adikmu yang menceritakannya kepadaku, dan dia menyuruhku untuk membantunya.”
“membantunya? Kau benar-benar sudah gila, sudahlah aku harus pergi”.
“kau mau kemana? Apa yang ku bilang tadi benar-benar terjadi, adikmu menemuiku!”
“aku tak mau berurusan dengan gadis aneh sepertimu” ketus laki-laki itu dan pergi  meninggalkan Mia.
“hey..aku ini tidak bercanda, kau harus percaya kepadaku!” teriak Mia keras menjelaskan.

***

Pagi itu Mia bergegas pergi untuk menuntaskan masalah yang datang kepadanya. Ayah dan ibunya pun merasa aneh kepada mia pagi itu. Tak seperti biasanya Mia pamit untuk jalan-jalan keluar, biasanya masih tidur dengan pulas di tempat tidurnya.
Ternyata pagi itu Mia bergegas kerumah sederhana yang ia temui kemarin. Rumah dimana tinggal didalamnya seorang laki-laki muda, dan satu orang perempun tua yang ternyata adalah neneknya. Rio, nama laki-laki yang ternyata berumur satu tahun diatas Mia. Dia merupakan siswa kelas 3 SMA disekolahnya. Pagi itu terlihat pintu rumah yang dilihat Mia terbuka, ternyata terlihat laki-laki muda berpakaian rapi keluar membuka pintu itu. Itu adalah Rio, ia memang biasa keluar dengan pakaian rapi setelah semingguan ini. Selam libur sekolah ia memang terdaftar sebagai pegawai di suatu hotel ternama yang berada di sekitar wilayah itu.
Rio memang merupakan tulang punggung bagi keluarganya. Ia hanya tinggal bersama neneknya. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya. akibat tabrakan beruntun yang menimpa keluarganya sepuluh tahun yang lalu, Rio memang menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Dan Rio lagi-lagi harus menerima kenyataan bahwa adiknya yang paling ia sayang pun pergi meninggalkannya.
Ketika mendengar cerita tentang kehidupan Rio, mia merasa sangat sedih. Ia merasa ternyata ia lebih beruntung dari pada Rio. Masih memiliki kedua orang tua yang lengkap, kehidupan yang cukup mewah. Sangat berbeda dengan kehidupan laki-laki yang diceritakan nenek Merry, neneknya Rio kepadanya.
Ketika tiba di villa, Mia pun menangis di depan kedua orang tuanya. Meminta maaf apa yang sudah ia lakukan kepada orang tuanya, semua perbuatan yang membuat orang tuanya merasa kesal dengan semua tingkah lakunya. Suasana pun haru biru.

***

“kau masih ingat denganku?” Tanya Mia
“kau…? Kau gadis aneh yang mengaku bertemu dengan adikku kemarin kan?” jawab Rio.
“ya, ini aku. Aku Mia dari Jakarta, disini aku hanya berlibur.”
“aku tidak bertanya tentang nama atau asalmu dari mana. Kau memang gadis aneh yang pernah ku temui!”.
“tak apa kau menyebutku dengan sebutan gadis aneh. Hanya saja aku ingin mengungkapkan apa yang benar-benar aku alami dan itu berkaitan dengan adikmu Rose, Rio!”
“dari mana kau tahu namaku dan adikku?”
“kau tak usah tahu aku mengetahuinya dari mana, yang jelas aku datang kesini hanya untuk menyampaikan pesan dari adikmu”. Jelas Mia.
“kau pikir aku akan percaya padamu? Aku bukanlah orang yang bisa kau bohongi. Kemarin aku sudah bilang adikku sudah lama meninggal bagaimana bisa dia menemuimu?”
“tapi dia benar-benar menemuiku Rio!”

Mia benar-benar tak mau kalah ia memang sangat berniat membantu Rose menyampaikan pesannya untuk Rio, pesan terakhir yang mungkin bisa membuat Rio bahagia. Namun tetap saja Rio sedikit pun tidak percaya dengan semua omongan Mia dan menganggapnya hanya omong kosong.

Mia terus saja mengikuti Rio kemana pun ia pergi, kebetulan hari itu Rio sedang libur kerja. Ia pun pergi ke sebuah danau yang indah, dan dibelakangnya terlihat Mia mengikutinya tanpa ia sadari. Dan Mia merasa sangant kagum dengan tempat yang dilihatnya itu. Itu memang tempat yang biasa Rio kunjungi ketika sedang mendapat masalah atau apapun yang membuat Rio sedih.

“kau mengikutiku?” Tanya Rio ketika mengetahui ternyata dari tadi Mia mengikutinya.
“aku tidak mengikutimu, tapi hanya melihat-lihat” jawab Mia beralasan.
“ini tempat yang biasa aku kunjungi jika pikiranku lagi kacau, kau tahu tempat ini benar-benar memberiku kekuatan  dan membuat pikiranku yang kacau hilang dengan sendirinya”. Jelas Rio kepada mia.
“aku melihat adikmu!” ucap Mia dan memalingkan matanya ke satu titik.
“kau tak usah bercanda, mengapa kau seperti ini?” jawab Rio sedih.
“dia senyum, cantik sekali. Dia senyum untukmu Rio” ucap Mia menghiraukan pertanyaan Rio sambil melihat Rose.
“aku sayang padamu kakak” ucap Rose kemudian diikuti Mia.
“cukup, cukup. Aku bilang cukup! Aku tahu ini hanya lelucon, ini semua tidak benar. Adikku telah meninggal, mana mungkin dia ada disini?” batin Rio terguncang mendengar perkataan Mia tersebut.
“aku tidak bohong kepadamu Rio, sungguh! Tunggu kau mau kemana” jelas Ami, kemudian mengejar Rose.
“katakan temanku, aku menyayangi kakakku. Dia harus hidup bahagia, harus! Aku ingin kau sebagai penyemangat dia Mia, aku mohon. Kau lah yang bisa membahagiakan dia, Aku yakin Mia. Kini tiba saat ku pergi untuk selamanya. Aku ingin kau menepati janjimu kepadaku Mia, sebagai teman. Katakan kepada kakakku aku menyayanginya, aku menyayanginya Mia, aku benar-benar ingin melihatnya bahagia, bahagia Mia, bahagia!” suara itu akhirnya menghilang dan Rose pun menghilang, benar-benar menghilang.

Mia merasa sedih dengan pesan terakhir Rose, itu membuat hatinya benar-benar sedih dan berat sekali menerima kenyataan  bahwa teman yang baru ia temui akhirnya pergi untuk selama-lamanya dan tak akan pernah kembali.
Sehari setelah kejadian itu, akhirnya tibalah untuk Mia mengakhiri masa liburannya. Liburan kali ini benar-benar memberinya pelajaran yang cukup berharga. Rio, Rose dan keluarganya  membuat Mia berubah.
“bereskan semua baju-baju kamu sayang!” perintah Ibu kepada Mia.
“iya Bu.. akan aku bereskan” jawab Mia.

Setelah selesai membereskan semua pakaian dan mereka pun siap kembali ke Jakarta. Memulai semua kesibukan yang pernah di lakukannya sekitar dua minggu yang lalu. Tiba-tiba ketika mobil yang Mia dan keluarganya tumpangi akan melaju, terlihat seorang laki-laki yang ia kenal berada tepat di depan mobil.
“Rio…” tegur Mia menemui Rio dan keluar dari mobil.
“Mia, aku…”
“kau kenapa?” Tanya Mia
“kau mau pulang Mia?”
“ya, aku harus pulang Rio. Aku haru memulai semuanya lagi sekolah dan yang lainnya”.
“pergilah, tapi aku hanya ingin myampaikan sesuatu kepadamu”
“apa itu Rio?”
“tiga tahun lagi aku akan menemuimu, pasti”
Mia pun tersenyum. Senyuman yang begitu manis, kado terindah yang Rio dapat dari seorang gadis yang memberinya kebahagiaan. Janji itu pun terucap dari mulut Rio.

***

Seorang manager hotel ternama di Jakarta, akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di hotel itu karena yang menempati jabatan itu adalah seorang laki-laki muda, tampan dan akan menuntaskan pendidikannya sebentar lagi. Di sebuah perguruan tinggi negri di Jakarta, laki-laki itu mengenyam pendidikannya. Rio, laki-laki asal puncak Bogor yang sukses dengan pekerjaan serta pendidikannya. Ketika Rio menjadi seorang wisudawan di kampusnya, semua orang ingin melihatnya. Ketika ia bergegas pergi dengan tergesa-gesa, tidak sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita cantik. Dan wanita itu adalah Mia, gadis yang dahulu pernah ia kenal.
“Mia???” Tanya Rio tidak percaya dengan apa yang di lihatnya itu.
“Rio… inikah engkau??” tanya Mia terkejut.
“ya, ini aku Mia. Orang yang pernah berjanji kepadanmu tiga tahun yang lalu”.

Suasana di siang hari itu pun benar-benar seperti bernostalgia, mengingatkan ketika pertama kali bertemu. Mia pun tersenyum merah, Senyuman yang tak pernah Rio lupakan. Ini benar-benar pesan yang membuat Rio bahagia tak pernah ia merasa sebahagia ini.
“Rose ini kah pesan yang ingin kau sampaikan???” Tanya Rio dalam hati.
“terima kasih Rose, ini pesan terindah yang pernah kakak terima”.

 Pesan terakhir Rose pun tersampaikan. Pesan terakhir yang berisi kebahagiaan untuk kakak tercintanya.

***


Ale (Bandung, 25 April 2012)

Sepenggal Drama


Mau Di Bawa Kemana?

DISEBUAH PERKAMPUNGAN KUMUH DI SEKITAR PINGGIRAN JAKARTA, TINGGALLAH SEKELOMPOK ANAK MUDA YANG MENGADU NASIB DI IBU KOTA JAKARTA. DIANTARA SEGEROMBOLAN ANAK MUDA TERSEBUT TINGGALLAH DUA SAHABAT YANG MERUPAKAN PENGAMEN JALANAN.

Minah : sur, kapan ya kita kayak anak-anak muda Jakarta yang kemana-mana pake mobil, jalan-jalan ke mall?
Suryati : minah, minah.. kamu mah suka kayak gitu. Gimana mau naik mobil uang aja kita gak punya.
Minah : bukan gitu sur, ya aku ora ngerti gitu, kenapa ya orang-orang Jakarta itu pada seneng ngabisin uang-uang mereka?
Suryati : ya kumaha mereka atuh minah, mereka yang punya uang.

TIBA-TIBA TERLIHAT METROMINI DATANG KE HALTE DIMANA MINAH DAN SURYATI BERISTIRAHAT. MEREKA PUN BERSIAP-SIAP MENAIKI METROMINI TERSEBUT UNTUK MENGHIBUR ORANG-ORANG YANG TERLIHAT KECAPEAN WALAUPUN TIDAK BANYAK DARI MEREKA YANG TIDAK SUKA AKAN KEHADIRAN MEREKA BERDUA.

KETIKA PEMBERHENTIAN SELANJUTNYA, MINAH DAN SURYATI PUN AKHIRNYA TURUN DARI METROMINI TERSEBUT.

KETIKA SEDANG ASIK-ASIKNYA MENGHITUNG PENDAPATANNYA SIANG ITU, TIBA-TIBA KANTONG KRESEK YANG DI PEGANG MINAH PUN TERJATUH BERSAMA KOIN RECEHAN HASIL MENGAMEN.

Minah : ya ampun. (kaget melihat uang koinnya berhamburan kemana-mana)
Monic : heh, apa-apaan sih? Iuuh udah dekil, kucel, bau lagi.. aaaaa baju gue jadi kotor kan. Asal kalian tahu ya init uh baju mahal, dari luar negri alias impor. You know???
Suryati : maaf non, kami teh gak sengaja nabrak non. Seka li lagi saya minta maaf.
Monic : apa??? Minta maaf?? Heh gelandangan memangnya kata-kata maaf dari kalian gak akan bisa ganti baju mahal ini tahu!!!
Suryati : iya non, maaf saya teh juga tahu pasti baju yang non pake itu mahal.
Monic : kamu tahu gak ini tuh gue beli jauh dari inggris. Tahu gak inggris??? Di indonesia Gak bakalan ada baju kayak gini!!!
Minah : masa? Tapi saya pernah lihat ini di pasar abang paling juga lima puluh ribu harganya.
Monic : what??? Kalau baju kayak gini ada di indonesia gue beli sama toko-tokonya bila perlu yang jualnya juga.
Minah : heh non, walaupun di indonesia gak ada baju yang kayak gitu, tapi saya bangga dengan produksi indonesia. Memangnya apa bagusnya produk luar negri?
Monic : oh ya jelas produk luar negri itu pasti bagus-bagus dan gue bangga memakainya karena gak semua orang bisa make produk luar negri. Di banding kalian… ( melihat pakaian yang di pakai minah dan suryati)
Minah : kenapa melihat kami seperti itu? Apa karena kami kucel? Walaupun saya kucel, tapi saya lebih menyukai produk indonesia non.
Monic : ya iyalah, gimana gak cinta sama produk indonesia punya uang aja pas-pasan mana bisa beli baju impor.
Minah : nona jangan ngejek kami seperti itu dong. Kami memang miskin gak punya apa-apa tapi kami lebih baik dari nona yang hanya bangga dengan produk luar.
Suryati : sudah-sudah minah, nona ini benar kita memang miskin sebaiknya kita teh mnegalah saja.
Minah : gak misa sur kita harus buktikan sama nona ini kalau produk indonesia gak kalah bagus kok dari produk luar negri (menegaskan kepada Suryati) nona saya kasih tahu ya produk indonesia juga bagus. Walaupun saya miskin tapi saya tetap bangga dengan produk indonesia.
Monic : alahhhh… gak penting ngomong sama kalian berdua. Kalian tahu orang-orang juga sudah tidak perduli sama produk indonesia. Mereka lebih memilih makan di tempat-tempat makan yang dari luar seperti KFC dan yang lainnya. Jadi bukan gue saja yang seperti itu. Lagi pula gengsi gue kalau makan di tempat-tempat kotor seperti emperan.
Minah : walaupun kotor tapi emperan juga gak kalah enak rasanya, bahkan lebih enak dari makanan cepat saji.
Monic : akh sudah ngomong sama orang-orang seperti kalian bikin gue pusing bukannya ganti baju gue yang kotor malah nasehatin gue. ( pergi meninggalkan minah dan suryati)
Minah : tapi nona…
Suryati : sudah lah minahkamu teh gak usah mikirin mereka. biarin saja mereka mau beli produk luar atau tidak. Itu teh kan urusan mereka duit-duit mereka bukan duit kita juga kan?
Minah : gak bisa sur, kalau orang-orang indonesia seperti nona tadi mau jadi apa negri indonesia ini?
Suryati : akh kamu mah minah negri ini teh sudah ada yang yang ngurusin, kamu mah gak usah repot-repot mikir, Biarin mereka yang mikir minah.
Minah : ya kalau orang-orang indonesia pikirannya sama kayak kamu bisa gawat sur, kita gak akan maju-maju.
Suryati : emangnya mau maju kemana atuh minah kamu teh?
Minah : yah kamu ini, pusing saya kalau ngomong sama kamu !!! (pergi meninggalkan Suryati)

MINAH DAN SURYATI PUN MENGAMEN KEMBALI DI SUASANA KOTA JAKARTA YANG PANAS MENYENGAT. TIBA-TIBA MINAH PUN BERHENTI DI DEPAN SEBUAH BANGUNAN MILIK ORANG LUAR NEGRI YANG BERINVESTASI DI NEGARA KITA, YAITU TEMPAT MAKAN MAKANAN SIAP SAJI YANG KEBETULAN DI SEBELAHNYA TERDAPAT RUMAH MAKAN MAKANAN KHAS INDONESIA.

Minah : lihat kebanyakan orang-orang indonesia lebih memilih makanan produksi luar negri sedangkan rumah makanan khas indonesia jarang pengunjung. Bisa-bisa makanan khas indonesia hilang jika semua orang indonesia lebih memilih makanan mereka.
Suryati : kamu mah minah sirik saja sama mereka teh, tapi omongan kamu ada benernya juga sih.
Minah : kamu tahu gak kalau puisi bilang:
Ketika benih itu tumbuh
Angin pun tak kan mudah melumpuhkannya
Menetes hingga tujuan terakhir
Tapi tidak dengan mereka
Mereka yang pergi meninggalkan pohon yang hampir usang namun tidak usang
Mereka pergi memberi ajar angin yang berhembus
Sampai akhir mati sendiri
Dengan rela emas ditukar senang tak ada
Suryati : akh kamu mah minah pake puisi-puisi segala. Jadi intinya apa atuh?
Minah : intinya kalo semua orang indonesia seperti mereka yang kaya mereka orang-orang luar negri itu. Kita Cuma memberi saja padahal makanan cepat saji seperti itu tidak semuanya baik untuk tubuh kita. Akan lebih baik kalau mereka memakan makanan khas indonesia seperti makanan padang iya toh??? Kan lumayan memperkaya saudara sebangsa dan setanah air sendiri dari pada memperkaya orang lain.
Suryati : owh jadi sekarang teh sahabatku ini nasionalis pisan!! (tersenyum)
Minah : hahahaha kamu ini bisa saja sur. Ayo kita ngamen lagi (pergi meninggalkan Suryati)

***

Ale (bandung, 13 juni 2012)





analisis puisi " mata pisau" karya Sapardi Djoko Damono


MATA PISAU 
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono

mata pisau itu tak berkejap menatapmu 
kau yang baru saja mengasahnya 
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel 
yang tersedia di atas meja 
sehabis makan malam; 
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu 


1.      Struktrur lahir
a.       Diksi
Diksi atau pilihan kata adalah pemilihan kata oleh penulis untuk menyatakan maksud (Keraf dalam Wahyudi 1989: 242).

Dalam puisi yang berjudul pada suatu hari nanti karya Sapardi Djoko Damono ini diksi yang dipakai tidak terlalu sulit, dan pembaca pasti akan mngerti apa makasud dari kata-kata yang dipilih dalam puisi ini.

b.      Pengimajian
Pengimajian atau daya bayang adalah kemampuan menciptakan citra atau bayangan dalam benak pembaca.

Pengimajian dalam puisi “mata pisau” ini yaitu membayangkan ketika kita melihat apel lalu mengirisnya dengan sebuah pisau yang tajam maka kita bisa menikmati apel tersebut akan tetapi jika pisau tersebut digunakan untuk memotong urat nadi seseorang maka akan lain ceritanya.

c.       Majas
Majas adalah ungkapan gaya dan rasa bahasa yang menunjukkan kepiawaian penyair.

Menurut Baribin (1990:50) personifikasi ialah mempersamakan benda dengan manusia, hal ini menyebabkan lukisan menjadi hidup, berperan menjadi lebih jelas, dan memberikan bayangan angan yang konkret. 

Dalam puisi ini tertulis pada larik pertama “mata pisau itu tak berkejap menatapmu” ini menunjukan bahwa kalimat tersebut masuk kedalam personifikasi dari kata mata itu tak berkejap menatapmu. Menatapmu disini seolah-olah pisau itu mempunyai mata atau indera penglihatan seperti makhluk hidup ataupun seperti manusi yang mempunyai indera penglihatan.
           
d.      Rima
Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak. Rima merupakan salah satu unsur penting dalam puisi. Melalui rima inilah, keindahan suatu puisi tercipta. Rima tidak selalu berada di akhir baris dalam satu bait. Rima juga dapat ditemukan dalam satu baris.

Puisi yang berjudul “mata pisau” termasuk ke dalam rima datar yaitu persamaan bunyi pada tiap-tiap larik sajak. Dan menempati rima asonansi (pengulangan bunyi vokal).

Misalnya : mata pisau itu tak berkejap menatapmu 

e.       Irama
Irama sering juga disebut dengan ritme atau tinggi rendah, panjang pendek, keras lembut, atau cepat dan lambatnya kata atau baris-baris suatu puisi bila puisi tersebut dibaca.

Pada puisi ini iramanya terdapat pada akhir puisi pada setiap kata hingga pada setiap barisnya. Sehingga ketika diucapkan iramanya mengacu pada tiap kata sehingga terdapat tekanan ketika membacanya. 

2.      Struktur Batin
a.       Tema
Herman J. Waluyo (1987:106) mengatakan “Tema merupakan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair”.

Tema dalam puisi “mata pisau” adalah Sesuatu hal yang terlihat positif ternyata mnyimpan sesuatu hal yang negatif pula, jika kita salah menempatkannya.

b.      Perasaan
Perasaan ini adalah keadaan jiwa penyair ketika menciptakan puisi tersebut. Pendapat penulis ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh Herman J. Waluyo (1987:121) bahwa perasaan adalah “ suasana perasaan penyair yang ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca”.

Perasaan Penyair dalam puisi ini yaitu ingin menunjukan bahwa sesuatu yang bermanfaat dan bernilai positif bisa menimbulkan hal negatif juga tergantung orang yang memakainya. Dan disini penyair menentang jika sesuatu yang bernilai positif di gunakan untuk hal yang negatif.

c.       Nada
Nada adalah sikap penyair dalam menyampaikan puisi terhadapa pembaca, beraneka ragam sikap yang sering digunakan oleah penyair, seperti yang dikemukakakn oleh Herman J. Waluyo (1987:125) “…apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, menyindir, atau bersikap lugas…”.
Dalam puisi “ mata pisau” Tidak terlihat emosi pada si penyair, dan nada dalam puisi ini terkesan datar.
d.      Suasana
Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut.

Suasana pembaca setelah membaca puisi ini yaitu merasa sedikit ada takut dan terkejut karena diakhir puisinya terlihat mengerikat yaitu dengan adanya kalimat “memotong urat leher”.

e.       Amanat
Herman J. Waluyo (1987:130) menyatakan bahwa “Pesan adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan atau pesan atau tujuan yang hendak disampaikan penyair”.

Jika sesuatu hal digunakan untuk hal yang positif maka akan menimbulkan hal yang positif pula dan sebaliknya jika sesuatu hal digunakan untuk hal yang negatif maka akan menimbulkan hal yang negatif pula bagi kita.

analisis puisi

analisis puisi dengan semiotik


puisi merupakan sebuah karya sastra. dalam mengkaji sebuah puisi, pengkaji biasanya menggunakan 3 kajian dalam puisi. 

1. strukturalisme
2. semiotik
3. sosiologi

namun disini saya sedikit membahas apa sih yang dimaksud dengan analisis semiotik???

pertanyaan itu pasti muncul bila kita hendak mengkaji sebuah puisi. apalagi jika pengkajiannya menggunakan semiotik. berikut uraiannya ^_^


#Analisis semiotik 

Menganalisis sajak bertujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam sajak itu sendiri. Sajak atau puisi merupakan sebuah karya sastra dan karya sastra merupakan struktur yang bermakna. Sajak atau puisi menggunakan bahasa sebagai mediumnya,  ini merupakan system semiotic atau ketandaan yaitu system ketandaan yang mempunyai arti. Ilmu yang mempelajari system tanda ini di sebut semiotic(a) atau semiologi.

Analisis semiotic tidak dapat dipisahkan dari analisis structural dan begitu juga sebaliknya. Dalam menganalisis semiotic pada puisi membuat hal-hal yang tersirat dalam puisi tersebut menjadi tersurat sehingga terbukalah makna-makna yang tersembunyi di balik kata-kata dalam puisi.
Dengan kata lain dalam proses menganalisis semiotic hal-hal yang dilakukak bukan hanya sekedar 

mengetahui makna sajak atau puisi dalam arti bahasanya saja, melainkan arti bahasa dan suasana, perasaan yang tertuang dalam puisi tersebut, intensitas arti, arti tambahan atau konotasi, dan arti yang ditimbulkan kebahasaan atau konvensi sastra misalnya, tifografi.