RSS

Sepenggal Drama


Mau Di Bawa Kemana?

DISEBUAH PERKAMPUNGAN KUMUH DI SEKITAR PINGGIRAN JAKARTA, TINGGALLAH SEKELOMPOK ANAK MUDA YANG MENGADU NASIB DI IBU KOTA JAKARTA. DIANTARA SEGEROMBOLAN ANAK MUDA TERSEBUT TINGGALLAH DUA SAHABAT YANG MERUPAKAN PENGAMEN JALANAN.

Minah : sur, kapan ya kita kayak anak-anak muda Jakarta yang kemana-mana pake mobil, jalan-jalan ke mall?
Suryati : minah, minah.. kamu mah suka kayak gitu. Gimana mau naik mobil uang aja kita gak punya.
Minah : bukan gitu sur, ya aku ora ngerti gitu, kenapa ya orang-orang Jakarta itu pada seneng ngabisin uang-uang mereka?
Suryati : ya kumaha mereka atuh minah, mereka yang punya uang.

TIBA-TIBA TERLIHAT METROMINI DATANG KE HALTE DIMANA MINAH DAN SURYATI BERISTIRAHAT. MEREKA PUN BERSIAP-SIAP MENAIKI METROMINI TERSEBUT UNTUK MENGHIBUR ORANG-ORANG YANG TERLIHAT KECAPEAN WALAUPUN TIDAK BANYAK DARI MEREKA YANG TIDAK SUKA AKAN KEHADIRAN MEREKA BERDUA.

KETIKA PEMBERHENTIAN SELANJUTNYA, MINAH DAN SURYATI PUN AKHIRNYA TURUN DARI METROMINI TERSEBUT.

KETIKA SEDANG ASIK-ASIKNYA MENGHITUNG PENDAPATANNYA SIANG ITU, TIBA-TIBA KANTONG KRESEK YANG DI PEGANG MINAH PUN TERJATUH BERSAMA KOIN RECEHAN HASIL MENGAMEN.

Minah : ya ampun. (kaget melihat uang koinnya berhamburan kemana-mana)
Monic : heh, apa-apaan sih? Iuuh udah dekil, kucel, bau lagi.. aaaaa baju gue jadi kotor kan. Asal kalian tahu ya init uh baju mahal, dari luar negri alias impor. You know???
Suryati : maaf non, kami teh gak sengaja nabrak non. Seka li lagi saya minta maaf.
Monic : apa??? Minta maaf?? Heh gelandangan memangnya kata-kata maaf dari kalian gak akan bisa ganti baju mahal ini tahu!!!
Suryati : iya non, maaf saya teh juga tahu pasti baju yang non pake itu mahal.
Monic : kamu tahu gak ini tuh gue beli jauh dari inggris. Tahu gak inggris??? Di indonesia Gak bakalan ada baju kayak gini!!!
Minah : masa? Tapi saya pernah lihat ini di pasar abang paling juga lima puluh ribu harganya.
Monic : what??? Kalau baju kayak gini ada di indonesia gue beli sama toko-tokonya bila perlu yang jualnya juga.
Minah : heh non, walaupun di indonesia gak ada baju yang kayak gitu, tapi saya bangga dengan produksi indonesia. Memangnya apa bagusnya produk luar negri?
Monic : oh ya jelas produk luar negri itu pasti bagus-bagus dan gue bangga memakainya karena gak semua orang bisa make produk luar negri. Di banding kalian… ( melihat pakaian yang di pakai minah dan suryati)
Minah : kenapa melihat kami seperti itu? Apa karena kami kucel? Walaupun saya kucel, tapi saya lebih menyukai produk indonesia non.
Monic : ya iyalah, gimana gak cinta sama produk indonesia punya uang aja pas-pasan mana bisa beli baju impor.
Minah : nona jangan ngejek kami seperti itu dong. Kami memang miskin gak punya apa-apa tapi kami lebih baik dari nona yang hanya bangga dengan produk luar.
Suryati : sudah-sudah minah, nona ini benar kita memang miskin sebaiknya kita teh mnegalah saja.
Minah : gak misa sur kita harus buktikan sama nona ini kalau produk indonesia gak kalah bagus kok dari produk luar negri (menegaskan kepada Suryati) nona saya kasih tahu ya produk indonesia juga bagus. Walaupun saya miskin tapi saya tetap bangga dengan produk indonesia.
Monic : alahhhh… gak penting ngomong sama kalian berdua. Kalian tahu orang-orang juga sudah tidak perduli sama produk indonesia. Mereka lebih memilih makan di tempat-tempat makan yang dari luar seperti KFC dan yang lainnya. Jadi bukan gue saja yang seperti itu. Lagi pula gengsi gue kalau makan di tempat-tempat kotor seperti emperan.
Minah : walaupun kotor tapi emperan juga gak kalah enak rasanya, bahkan lebih enak dari makanan cepat saji.
Monic : akh sudah ngomong sama orang-orang seperti kalian bikin gue pusing bukannya ganti baju gue yang kotor malah nasehatin gue. ( pergi meninggalkan minah dan suryati)
Minah : tapi nona…
Suryati : sudah lah minahkamu teh gak usah mikirin mereka. biarin saja mereka mau beli produk luar atau tidak. Itu teh kan urusan mereka duit-duit mereka bukan duit kita juga kan?
Minah : gak bisa sur, kalau orang-orang indonesia seperti nona tadi mau jadi apa negri indonesia ini?
Suryati : akh kamu mah minah negri ini teh sudah ada yang yang ngurusin, kamu mah gak usah repot-repot mikir, Biarin mereka yang mikir minah.
Minah : ya kalau orang-orang indonesia pikirannya sama kayak kamu bisa gawat sur, kita gak akan maju-maju.
Suryati : emangnya mau maju kemana atuh minah kamu teh?
Minah : yah kamu ini, pusing saya kalau ngomong sama kamu !!! (pergi meninggalkan Suryati)

MINAH DAN SURYATI PUN MENGAMEN KEMBALI DI SUASANA KOTA JAKARTA YANG PANAS MENYENGAT. TIBA-TIBA MINAH PUN BERHENTI DI DEPAN SEBUAH BANGUNAN MILIK ORANG LUAR NEGRI YANG BERINVESTASI DI NEGARA KITA, YAITU TEMPAT MAKAN MAKANAN SIAP SAJI YANG KEBETULAN DI SEBELAHNYA TERDAPAT RUMAH MAKAN MAKANAN KHAS INDONESIA.

Minah : lihat kebanyakan orang-orang indonesia lebih memilih makanan produksi luar negri sedangkan rumah makanan khas indonesia jarang pengunjung. Bisa-bisa makanan khas indonesia hilang jika semua orang indonesia lebih memilih makanan mereka.
Suryati : kamu mah minah sirik saja sama mereka teh, tapi omongan kamu ada benernya juga sih.
Minah : kamu tahu gak kalau puisi bilang:
Ketika benih itu tumbuh
Angin pun tak kan mudah melumpuhkannya
Menetes hingga tujuan terakhir
Tapi tidak dengan mereka
Mereka yang pergi meninggalkan pohon yang hampir usang namun tidak usang
Mereka pergi memberi ajar angin yang berhembus
Sampai akhir mati sendiri
Dengan rela emas ditukar senang tak ada
Suryati : akh kamu mah minah pake puisi-puisi segala. Jadi intinya apa atuh?
Minah : intinya kalo semua orang indonesia seperti mereka yang kaya mereka orang-orang luar negri itu. Kita Cuma memberi saja padahal makanan cepat saji seperti itu tidak semuanya baik untuk tubuh kita. Akan lebih baik kalau mereka memakan makanan khas indonesia seperti makanan padang iya toh??? Kan lumayan memperkaya saudara sebangsa dan setanah air sendiri dari pada memperkaya orang lain.
Suryati : owh jadi sekarang teh sahabatku ini nasionalis pisan!! (tersenyum)
Minah : hahahaha kamu ini bisa saja sur. Ayo kita ngamen lagi (pergi meninggalkan Suryati)

***

Ale (bandung, 13 juni 2012)





0 komentar:

Poskan Komentar